Happy Sunday
everyone!
Sebenarnya agenda hari
ini mau ke Tugu Pahlawan untuk melihat parade perjuangan. Namun karena tadi
malam saya main bersama teman-teman the Aquarium
Genk, pagi ini kecapekan. Beberapa hari lalu, ada salah satu pembaca blog yang bertanya tentang salah satu
tulisan dan tiba-tiba memberi kalimat motivasi. Intinya dia bilang agar saya
terus menulis. Hal sesederhana itu bisa memotivasi saya untuk lebih rajin
menulis (walaupun postingan lebih
banyak unsur tidak berfaedahnya). “Menulis hal gabut masih lebih baik daripada hanya
leyeh-leyeh di Kasur “ – Rosa, 2018.
Tulisan kali ini akan
membahas mengenai museum-museum apa saja yang ada di Kota Surabaya, Jawa Timur.
Entah mengapa, saya kok tetiba tertarik untuk mengunjungi museum (padahal dulu
mendengar kata “museum” pun tak tertarik sama sekali). Di Surabaya banyak
sekali museum menarik, saya sudah mengunjungi cukup banyak museum tapi ada
beberapa yang belum sempat. Berdasarkan pencarian di internet, berikut adalah
museum-museum yang ada di Surabaya (Note
: yang ada kata “done” berarti
saya telah mengunjungi museum tersebut):
1.
House of Sampoerna (done)
2.
Museum
Sepuluh Nopember (done)
3.
Museum
Bank Indonesia (done)
4.
Museum
Bank Mandiri (done)
5.
Museum
W.R Soepratman (done)
6.
Museum
Dr. Soetomo (done)
7.
Museum
Surabaya (done)
8.
Museum
Kapal Selam (done)
9.
Museum
Nahdhatul Ulama
10.
Museum
Jalesveva Jayamahe
11.
Museum
De Eye Trick
12.
Museum
Rudi Isbandi
13.
Museum
kanker Indonesia
14.
Museum
Kesehatan
Ada yang ketinggalan? Hm… ternyata masih banyak ya
museum yang belum saya kunjungi. Baiklah, saya akan coba memberi gambaran
tentang museum yang telah saya kunjungi. Dari kedelapan museum tersebut, ada
beberapa yang menjadi favorit. Berikut adalah review museum-museum di Surabaya (urutan menunjukkan tingkat biased atau favoritism. Untuk Museum Bank Indonesia dan Bank Mandiri tidak saya
review karena sudah lupa hahaha, kapan
terakhir ke sana ya?) :
1.
Museum
Sepuluh November
Alamat
: Jln. Pahlawan, Bubutan.
Harga
tiket masuk : 15000 (Kala itu, saya berkunjung di Hari Sabtu. Untuk weekdays, saya kurang tau harga tiket
masuknya berapa)
Mengapa
ini menjadi favorit saya?
a. Konsep
bangunan museum ini berbeda dari yang lain. Jika museum di Surabaya biasanya berbentuk seperti rumah atau bangunan perkantoran, museum ini jika dilihat
sekilas mirip dengan De Louvre Museum di
Paris, yaitu menggunakan konsep bangunan geometri setitiga. Desain interior
juga banyak menggunakan bentuk-bentuk segitiga + warna monokrom (sebagai
pecinta warna monokrom, faktor ini tentu saja sangat penting).
b. Rasa
(feel). Entahlah, ketika masuk di
sini, saya benar-benar seperti flashback ke
tahun 1945. Mungkin karena radio yang berisikan pidato Bung Tomo yang membuat
saya merinding + teks pidato yang juga saya baca juga. Di Galeri Surabaya juga
diputar pidato ini ya btw. Jadi kalau main ke Suroboyo Carnival, jangan lupa
mampir Galeri Surabaya.
Ini juga museum paling ramai yang pernah saya
kunjungi. And I was happy seeing many
people came here, especially the family. Oh ya, di sini juga ada ruang Diorama
Elektronik dan Diorama Statis yang pasti tidak kalian temui di museum lain di
Surabaya. Apakah itu? Diorama elekronik adalah tempat pemutaran film dokumenter
pertempuran Surabaya yang dilengkapi dengan Video
Maping System dan Animasi. Secara sederhana seperti ini, ada layar yang
memutar film dokumenternya. Lalu di depannya ada semacam peta Surabaya 3D yang
menjelaskan video di layar. Misal ketika video bercerita tentang pasukan
Inggris yang datang lewat air dan udara gegara Mallaby tewas terbunuh, di
petanya tadi akan ada efek kapal dan pesawat tempur. Intinya seperti itulah.
Hal memalukan di sana adalah saya nangis waktu menonton film nya. Mbak-mbak
sebelah were like “Ini orang kenapa
sih?” Ya entahlah, mungkin karena saya terlalu menghayati film dokumenternya.
Dulu saya juga pernah nangis waktu nonton Harry
Potter and the Deathly Hollow part 2 sedangkan ketika nonton drama atau
sejenisnya yang kata orang bikin sedih, saya biasa saja (mungkin ada syaraf
yang terbalik kali ya?). Jika mau masuk ke ruangan ini, minimal harus ada 15
orang, baru film akan diputar. Diorama Statis adalah tempat untuk mendengarkan
cerita dengan berbagai bahasa (bisa pilih nanti) yang dilengkapi semacam
lukisan 3D. Jika Diorama Elektronik terletak di lantai bawah, diorama statis
terletak di lantai 2. Di lantai bawah juga ada radio yang memutar pidato Bung Tomo. You guys have to listen to it.
Masih di lantai bawah, terdapat patung proklamator dan kolonade yang membuat feel nya semakin mendalam.
Tampak Luar Museum |
Patung Proklamator |
Radio Berisikan Pidato Bung Tomo |
Diorama Statis |
Kolonade Berisi Sejarah Pertempuran Surabaya |
2.
Museum
Surabaya (Gedung Siola)
Alamat
: Jln. Tunjungan nomor 1.
Tiket
masuk : free entry
Hal yang membuat saya suka dengan
museum ini adalah konsep museum ini yang menjelaskan sejarah Kota Surabaya.
Belajar tentang sejarah Kota Surabaya lebih asyik daripada belajar sejarah
Indonesia yang cakupannya lebih luas. Penjelasan di museum ini lebih sederhana
karena berhubungan dengan daily life kita.
Contohnya adalah kesenian reog, wayang, walikota-walikota Surabaya, perabot
jaman dulu, pekerjaan di pemerintahan, kendaraan tradisional, sampai musisi
asli dari Surabaya. Karena letak museum yang menjadi satu dengan kantor
pemerintahan, museum ini juga ramai walaupun kebanyakan pergi ke kantor
administrasi. Di sebelah museum ada toko souvenir,
kalian bisa menemuhi barang-barang lucu dan baju-baju batik, ada makanan juga. Setelah
capek berkeliling museum, bisa istirahat sejanak sambil makan di sini.
Di Dalam Museum |
Seragam Berbagai Pekerjaan di Pemerintahan |
Musisi dari Surabaya |
Wayang |
[Masih] Wayang |
Replika Rempah-Rempah |
3.
House of Sampoerna
Alamat
: Taman Sampoerna no. 6, Krembangan
Tiket
Masuk : free entry
Di tempat ini sebenarnya ada dua
museum, yaitu museum rokok dan museum seni yang terletak dekat parkir. Seperti
namanya, museum ini menjelaskan tentang Sampoerna (salah satu brand rokok terbesar di Indonesia).
Secara konsep, karena saya salah satu orang yang tidak setuju dengan rokok,
saya hanya sekadar lihat dan tidak begitu tertarik secara mendalam. Dari segi
interior, museum ini paling bagus di antara museum lainnya. Ada dua lantai,
lantai pertama menjelaskan sejarah berdirinya Sampoerna beserta packaging yang pernah digunakan. Di
lantai dua menjelaskan administrasinya. Di sini kalian juga bisa melihat
orang-orang bekerja karena ada kaca besar untuk bisa melihat langsung para
wanita yang sedang mempackage rokok
(Saya tidak menemukan bahasa yang bagus untuk menjelaskan). Di Gedung
sebelahnya menjelaskan tentang kesenian dari seluruh Indonesia dan kumpulan
potret suku-suku yang ada di Indonesia. Di museum ini juga ada tempat souvenir dan café. Alasan utama mengapa saya suka tempat ini adalah adanya free city tour bus, yang sebelumnya
sudah pernah saya jelaskan di post
berjudul “Jalan-Jalan Sendiri itu Asyik”.
"Mewah" Kan? |
Di Bagian Kesenian |
4.
Museum
Dr. Soetomo
Alamat
: Jln. Bubutan no 85-87
Tiket
Masuk : Free entry
Museum ini mempunyai tiga bagian,
yaitu bagian masa kecil Dr. Soetomo (dalam Gedung), Organisasi yang diikuti Dr.
Soetomo (pendopo di luar), dan makam beliau. Waktu berkunjung ke sini, benar-benar
sendirian karena tak ada pengunjung sama sekali. Saya tanya-tanya ke
penjaganya, apakah museum ini sesepi ini. Di hari Minggu saja sepi sekali,
bagaimana hari aktif? Kata masnya sepi, cuma jika mendekati hari Pahlawan
biasanya ramai. Museum ini seperti museum pada umumnya, dari segi penataan juga
hampir sama seperti museum-museum sebelumnya. Di lantai bawah menjelaskan
biografi Dr. Soetomo dan di lantai atas lebih ke memajang peralatan prakti
beliau. Di bagian pendopo juga hampir sama. Saya suka di sini karena konsepnya
yang lebih open space, maksudnya
tidak di dalam Gedung sehingga terasa lebih free
saja. Di sebelah pendopo, ada makam beliau. Bagian yang paling berbekas
buat saya ketika membaca cerita kematian istri Dr. Soetomo. Untuk ceritanya,
jika penasaran, bisa search di google saja. Ceritanya agak mirip dengan
cerita Habibie-Ainun.
Sepi |
Peralatan yang Digunakan Dr. Soetomo |
Pendopo (Bagian Luar Museum) |
5.
Monumen
Kapal Selam
Alamat
: Jln. Pemuda no. 39
Tiket
Masuk : 5000 (weekend)
Sepertinya, ini adalah monument paling
terkenal di Surabaya. Didesain seperti museum karena di dalamnya terdapat info
mengenai sejarah dan kegunaan kapal kapal seam. Sesuai namanya, museum ini
menjelaskan tentang sejarah kapal selam ini yang dipakai oleh Angkatan Laut.
Indonesia memang terkanal akan armada lautnya, bahkan sampai sekarang. Bentuk
museumnya kapal selam. Di dalamnya juga masih ada alat-alat yang digunakan
untuk mengoperasikan kapal ini. Saya tidak terlalu mengerti dari segi teknis,
jadi terkadang tulisan saya skip. Di
sini hanya sekadar tahu bagaimana sih
bagian dalam kapal selam. Karena tak terlalu besar, jadi keluarnya juga cepat.
Di sini paling lama 15 menit maksimal karena tempatnya tidak besar. Tapi jangan
pergi dulu, karena di gedung bagian belakang ada tempat untuk menonton film
dokumenter juga tentang angkatan laut Indonesia. Waktu ke sini, saya tak
sengaja datang bersama dengan orang produksi dari salah satu channel di youtube. Jadi sekalian saya melihat proses pembuatan vlog yang proper.
6.
Museum
W.R Soepratman
Alamat
: Jln. Mangga no. 21
Tiket
Masuk : Free Entry
Literally,
the tiniest museum I ever known.
Bukan disebut museum juga karena tempat ini adalah rumah singgah terakhir W.R
Soepratman ketika sakit (dari penjara Kalisosok). Waktu ke sini, saya tersesat
dua kali karena berdasar GPS itu sudah sampai tapi saya muter-muter tapi tidak
menemukan. Ternyata letakya di dalam gang kecil di antara rumah-rumah penduduk.
Di bagian depan ada patung besar W.R Soepratman yang sedang bermain biola. Di
sini hampir tidak ada tempat parkirnya, saking mungilnya. Di ruangan depan terdapat
ranjang beliau sekaligus tempat beliau menghembuskan nafas terakhir. Ada
replika biola dan seragam yang beliau pakai. Iya hanya itu, saja. Lagi-lagi,
tak ada pengunjung di hari Sabtu. Jadinya banyak mengobrol dengan mas penjaga
museum.
Patung Besar di Depan Museum |
Itu Mas Penjaga Museum yang Saya Paksa Foto (Sungguh kurang ajar) |
Kalimat Terkahir W.R Soepratman |
Tempat Terakir W.R Soepratman Sebelum Wafat |
Cukup sekian review museum-museum yang ada di Surabaya. Semoga saya bisa
berkunjung ke museum-museum yang lainnya. Amin.