GRAVITASI CINTA (?)

20.48

Pernahkan Anda mencoba terbang ?
Apa hasilnya ?
Jatuh ? Pasti, Kan ?
Seberapa pun kerasnya anda mencoba terbang, hasilnya akan tetap sama yaitu “jatuh”, kecuali jika menggunakan peralatan yang menunjang kebutuhan anda untuk terbang, misalnya pesawat atau baling-baling bambu (?)
Ok, cukup. Sebenarnya itu hanyalah prolog berupa analogi yang [sangat] dipaksakan. The real case is saya terkena virus yang disebut “homesick”. Lantas, apa hubungannya dengan terbang ?
Pasang mata dan otak untuk mendengar (?) penjelasan saya:
This is not about a house, but it is a home. What distinguish between these words ? Try to find it by yourself, I am going to tell my pointGravitasi bumi adalah gaya tarik yang dimiliki bumi. Akibat dari gaya ini, anda tidak akan pernah bisa meninggalkan bumi ini (dalam konteks ini adalah meninggalkan bumi menuju luar angkasa) kecuali jika anda menggunakan alat penunjang untuk terbang. Begitupun dengan gravitasi cinta, adalah gaya tarik yang dimiliki oleh sesuatu yang disebut CINTA. Cinta di sudut pandang saya dalam case ini adalah keluarga. Iya, keluarga. Seberapa pun kerasnya saya mencoba terbang dari keluarga, hasilnya akan tetap sama yaitu “jatuh”. Mencoba terbang maksudnya adalah mencoba sementara untuk fokus kegiatan di dalam dan luar kuliah, dan sedikit melupakan keinginan untuk pulang kampung. Karena gayanya terlalu besar, saya pun harus jatuh. Jatuh ke dalam “kehampaan” atau dalam kata lain “[sangat] kurang motivasi”. Agak berlebihan ya ? Tapi itu memang yang saya rasakan. Saya adalah seorang yang susah mengontrol mood. Jika satu hari saya dibuat kecewa, maka seharian itu saya akan memasang wajah kecewa kepada siapa pun. Begitu pun jika senang atau rasa lainnya. Akhir-akhir ini saya sedang dilanda homesick. Ke mana dan di mana pun saya teringat keluarga. Wajarlah. Karena itu, saya akhir-akhir agak BETE dan sangat kurang bersemangat. Seminggu yang lalu, saya tak kuasa membendung air mata ketika acara PELANGI (Pelatihan dan Pengkaderan Generasi Islam). Mas Adit, sebagai MS, memberikan presentasi dengan music dari drama One Litre of Tears. Haduuuh, sudah dalam keadaan homesick tingkat dewa ditambah lagu ini. Bagaimana saya tidak menangis ??? Setelah dengan perjuangan menghapus air mata, eh mbak Nana tanya, “Kenapa, Dek ? Keluarga ya ?” Ya langsung saya menangis tanpa henti sampai panitia bergiliran menghibur. Kebiasaan selalu bersama dengan keluarga benar-benar membuat saya tak bisa jauh dari mereka dalam jangka waktu yang agak lama. Terhitung, sudah sebulan tak sampai dua bulan saya tidak pulang ke rumah. Tapi ya bagaimana lagi, namanya juga kangen. Manusia mempunyai taraf ketahanan terhadap kangen dalam level yang berbeda-beda. Mungkin saya berada dalam level terbawah, sepertinya. Hari ini saya chattingan dengan teman. Saya bercerita jika saya benar-benar dilanda homesick. Dia balik tanya, “Baru sebulan lebih doang. Lihat anak-anak luar Jawa, sudah berapa lama mereka tidak pulang ?”. Aku menjawab dengan percaya diri, “Mereka itu strong. Aku belum mampu mencapai level itu”.
Gravitasi cinta, begitu susahnya ? Iya, susah. Saya benar-benar tidak tahan untuk ketemu ayah, ibu, mas, Wina, Haris, dan yang lain. Seperti yang dikatakan Westlife, let me go homeeeeeeeee.



You Might Also Like

0 komentar