“BACOT” DI SOSIAL MEDIA

21.10


Sebenernya pemakaian kata “bacot” di judul di atas terdengar sangat tidak sopan dan cenderung keras. Namun, menurut saya kata tersebut tepat menggambarkan para netizen di dunia, tak terkecuali Indonesia. Masih berkorelasi dengan hoax sebenarnya, karena orang yang menyebar berita hoax dan percaya, kebanyakan mereka tidak bisa mengontrol perkataan. Jujur ya, Twitter saya isinya sudah amburadul. Apalagi ini menjelang detik-detik putaran pilkada Jakarta yang kedua. Kemudian di Twitter saya yang satunya, juga dipenuhi oleh para Islamophobia dan para troll account. Intinya sama, beda bahasa saja.

Start off with pilkada Jakarta. To be very honest, saya males membaca berita ini. Bukannya tidak peduli, tapi saya sekarang juga nggak tahu portal mana yang bisa dipercaya. Beberapa minggu lalu saya sempat melihat di timeline Twitter jika salah satu portal berita online terbesar di Indonesia, menyampaikan berita yang tidak benar. Sigh. Ya kan, jadinya tambah males. Terkait dengan Ahok, jujur, sebagai umat muslim, marah dong, kitab saya dihina. Terkait beberapa aksi bela ulama, saya juga fine-fine saja. Kapan lagi umat Islam bersatu? Biasanya kan ribut gara-gara kubu NU, Muhammadiyah, dll. Fansnya Ahok dan Anies sama-sama bacot sih menurut saya, tentu nggak semua. Mereka sibuk mencari kesalahan paslon lain dan menyebar kebencian di Twitter. Kenapa nggak pada sibuk menyebarkan berita baik sih? Saya juga kecewa dengan beberapa publik figur yang memanfaatkan followers mereka, dengan tidak langsung, membela mereka dan membuat orang yang tak sepaham dibash. I mean, mereka sengaja ngequote pendapat orang lain yang tidak setuju atau bahkan bertentangan dengan mereka, yang mengakibatkan cepatnya cyber bullying. Contoh sederhanya seperti ini:

Akun A berpendapat. Kemudian akun B, entah mengquote atau membalas dengan jawaban kontradiksi. Akun A memiliki banyak followers, dan sengaja mengquote agar followers mereka tahu. Setelah itu, biasanya akun B akan diserang. Sudah, siklusnya berulang seperti itu. 

Saya kecewa melihat kebanyakan umat Muslim di Indonesia saling bertengkar dan menjatuhkan hanya gara-gara beda paslon. Tak sedikit dari mereka juga suka sibuk bertengkar di media sosial daripada menyebarkan berita yang bermanfaat. Dan maaf sekali, saya harus mengatakan hal seperti ini, tapi umat muslim di Indonesia sekarang cenderung main hakim sendiri. Kita memang mayoritas di sini, tapi bukan berarti kita bisa melakukan hal seenaknya sendiri. Banyak juga yang bilang, “Coba di Myanmar, muslim loh disiksa tapi di sini agama lain biasa saja.” Terus kalian mau membalas dendam kepada kaum di sini yang tak ada hubungan sama sekali dengan kaum yang menindas umat Muslim di Myanmar? Karena Muslim di sana disiksa, apakah kita muslim di sini berhak menyiksa kaum non-Muslim? In case you do not know, Saya muslim, 100% muslim. Saya tidak membela Ahok atau siapapun di sini. Saya tentu kesal dengan Ahok karena sudah menghina ulama/Al-Quran. Tapi kita tinggal di negara hukum, bukan negara Islam. Biarkan aparat hukum yang menyelesaikan. Sebagai umat Muslim, kewajiban kita berdoa agar kebenaran bisa terungkap. Saya kecewa dengan beberapa orang Muslim yang katanya cinta Agama Islam, tapi sibuk bertengkar di Sosial Media. Kita semua sama-sama tahu bahwa banyak akun sampah di Twitter. Kalau nggak suka block aja, beres. Kalau kalian mau ngeladenin? Boleh sih, tapi niatnya harus educating them. Jika tidak bisa, block aja. Enak kan meringankan emosi sekaligus dosa? Masih terkait pilkada Jakarta bahwa umat Muslim wajib memilih Muslim yang lain sebagai calon pemimpin. Umat muslim wajib tahu dan menyebarkan. Jika sudah tapi masih ada yang memilih calon pemimpin non-Muslim ya sudah. Kan tugas kita menyampaikan, bukan penerimaan? Sempat kemarin juga ada suatu kebijakan jika ada seorang Muslim meninggal terus ketahuan mendukung Ahok, jasadnya tidak akan dishalati. Sebagai umat muslim, pakai juga hati nuraninyalah. Hukum shalat jenazah adalah fardhlu kifayah. Kalau tidak ada yang menshalati, maka langsung dikubur, begitu? Janganlah kalau menurut pendapat pribadi karena hal tersebut terlalu childish. I mean, balik lagi bahwa islam bukan agama yang memaksa. Kita dakwahin dengan cara yang santun tentunya, jika tidak mau ya sudahlah. Allah pasti akan balas kok, tenang saja. Sekali lagi, tugas kita menyampaikan, bukan penerimaan. Untuk para pendukung paslon, mereka yang sudah berpangkat, mereka yang sudah terkenal, semoga lebih bijak dalam menghadapi tweet-tweet hoax dan jangan kepancing emosi. Dan untuk para netizen ababil, nggak usah sok-sokan paling bener. Ingat kalau mulutmu adalah harimaumu. 

Lalu di akun saya yang satunya, bukan pilkada-related, juga tak berbeda jauh. Beberapa waktu lalu saya sempat bikit tulisan yang berjudul “Dealing with the Ignorance”, cerita saya yang sadar bahwa kaum Islamophobia itu seambrek di Twitter. Sekitar dua minggu lalu, lagi-lagi, saya harus dealing sama mereka. Bukan sok-sokan apa, cumin saya nggak bisa tinggal diam kalau ada orang-orang yang mnjelek-jelekkan agama saya. Dan jujur, kali ini benar-benar lebih buruk dai sebelumnya karena dia bilangnya “belajar Islam” dan dia juga tahu beberapa hadist. Sayangnya, dia hanya membaca, tidak mengerti. Beberapa hadist bahkan saya baru tahu, dia lebih tahu dan terus mendesak saya untuk menjelaskan dan mengakui kalau agama saya keras. I was like, nih orang katanya baca Al-Quran tapi masih bilang Islam agama yang suka membunuh. Nggak negrti sih, dia baca Al-Quran yang mana. Wong sudah jelas membunuh itu dilarang di Al-Quran, tetep aja dia ngeyel. Dan yang paling menjengkelkan adalah dia menjelek-jelekkan nabi saya, Nabi Muhammad SAW. Bagaimana sih perasaan kita ketika nabi sendiri diaccused as rapist and murderer? Look the way he/she talked to me, so unethical. Ya “bacot” itu bahasa pasnya. The funny part is dia pendukung Trump dan percaya kalau Joseph Smith itu nabi baru gara-gara, katanya, Joseph Smith bisa melihat malaikat. Ya kan, dia Cuma baca Al-Quan tapi nggak menoba mengerti maksudnya #epicfail. Selain masalah islamophobia, banyak orang yang membuat “joke”, yang menurut saya, kelewat batas sih. Misalnya, “Die” atau “Go choke”. Saya tahu banget itu cuma candaan tapi kalau dari segi agama ya, perkataan bisa jadi doa. Makanya hati-hati dengan mulut. Belum lagi mereka yang membuat “joke” tentang Jesus. Jesus atau Nabi Isa a.s adalah salah satu Rasul di agama Islam. Kami menghormati sekali. Sedangkan kalian yang menganggap Jesus sebagai Tuhan, malah membuat lelucon yang sama sekali tidak lucu. Misalnya “Jesus is a female”, “Jesus was dead and people are still following Christianity”, kemudian mengganti foto Jesus dengan idola mereka, lalu bilang idola mereka sebagai Tuhan. Maaf ya, setahu saya, kami para Muslim nggak berani dan dilarang memportrait nabi, atau bahkan Tuhan. Namun kalian malah seperti itu, merendahkan Tuhan kalian sendiri. Nggak nyaman bacanya, nabi saya malah dibuat candaan. Alhamdulillah, tidak ada (sejauh yang saya tahu), umat Muslim yang membuat lelucon tentang nabi kami sendiri.

How care he/she called out my Prophet and my God (Allah SWT)

Bacot banget
Seperti itulah potret dunia media sosial sekarang, orang-orang ngomongnya nggak karuan, tidak beretika, suka sebar fitnah, membuat lelucon tentang agama, dan menjelek-jelekkan agama orang lain. Para netizen, bacotnya nggak bisa dijaga. Either they are Indonesian or nah, sama saja. 

You Might Also Like

0 komentar