SEGELINTIR SEJARAH KONFLIK SURIAH

07.46


Suriah adalah negara yang terletak di Timur Tengah dan beribukota di Damaskus. Negara ini menjadi sorotan dunia sekitar di tahun 2011 dikarenakan konflik internal antara pihak pemerintah dan oposisi yang berlanjut hingga sekarang. Sebelumnya banyak pihak, khususnya para ulama di Indonesia yang hanya menyoroti konflik di Suriah sekadar karena Bassar Al-Assad adalah seorang Syiah. Padahal, itu hanyalah salah satu faktor.  Berikut adalah rentetan konflik yang ada di Suriah.

Faktor-Faktor Pemicu Konflik di Suriah
Kesenjangan Ekonomi. Pada 16 Juni 2000 produksi minyak di Suriah mengalami penurunan menjadi 400000 barel per hari, angka kelahiran tinggi, dan pendapatan perkapita menurun. Perubahan iklim yang ekstrem sepuluh tahun belakangan menyebabkan kekeringan. Hal ini mempengaruhi sektor pertanian yang yang menghasilkan 20% GDP Suriah.
Kebijakan militer. Awal tahun 1985, Hafez Al-Assad mengucurkan dana sebesar 3,5 Miliar dolar Amerika atau 35% dari anggaran belanja negara guna membangun sector pertahanan. Pembelian peluru lalu dilakukan pada tahun 1986 sehingga ada kesan bahwa pemerintah Suriah hanya ingin memajukan sektor miter.
Sunni-Syiah. Negara Suriah didominasi oleh kaum Sunni sebesar 90%, sedangkan kaum syiah tak mencapai angka 10%. Namun dengan jumlah sebanyak itu kaum Syiah di Suriah mampu mendominasi dikarenakan presiden mereka juga menganut aliran ini.   

Awal konflik di tahun 2011, Konflik Internal
Lamanya kekuasaan oleh keluarga Assad, yaitu Hafeez Assad lalu digantikan oleh anaknya, Bassar As-Assad selama kurang lebih 50 tahun, telah menimbulkan berbagai macam permasalahan di dalam negeri Suriah. Penyebab konflik adalah politik dan geologis. Pertama diebabkan oleh kepentingan politik, permasalahan yang dihadapi yaitu kesenjangan sosial antara kelompok pemerintah degan warga sipil. Kedua disebabkan oleh perbedaan ideologis, yaitu sunni dan syiah. Konflik Suriah awalnya terjadi ketika para demonstran berunjuk rasa menentang rezim presiden Bashar Al-Assad (reformasi) pada tanggal 26 Januari 2011 dan meluas menjadi pemberontakan nasional. Pada tanggal 20 Maret 2011, para demonstran membakar kantor pusat Partai Ba’ath dan bangunan lainnya. Bentrokan berikutnya memakan korban 7 anggota polisi dan 15 demonstran. 10 hari kemudian, Presiden Bashar Al Assad berpidato menyalahkan propaganda “konspirator asing” Israel terhadap aksi unjuk rasa. Pemberontakan bersenjata dimulai pada tanggal 4 Juni di Jisr al-Shugur, sebuah kota di provinsi Idlib dekat perbatasan Turki, setelah pasukan keamanan yang berada di atap kantor pos menembaki ke arah pemakaman demonstrasi. Kemudian para pelayat demonstransi membakar gudung, membunuh 8 petugas keamanan, dan kemudian menyerbu sebuah kantor polisi, dan merebut senjata dari kantor tersebut. Kekerasan terus berlanjut dan meningkat hingga hari-hari berikutnya hingga saat ini.

Campur Tangan Pihak Luar
Untuk mengatasi konfik yang tak kunjung usai, beberapa pihak luar mulai ikut campur dalam upaya mentasi konflik di Suriah, tentunya negara-negara tersebut mempunyai kepentingan masing-masing. Pihak pendukung kubu Bassar Al-Assad adalah: Rusia, Iran, Irak, Cina, Korea Utara, Kuba, Venezuela, Aljazair, Belarusia, Angola, dan Sudan. Sedangkan pihak pendukung oposisi adalah: Amerika Serikat, Arab Saudi, Qatar, Turki Libya, Uni Eropa, Israel, NATO, dan Irak. Rusia memiliki hubungan bisnis dan historis yang cukup panjang dengan rezim Assad. Rusia juga menganggap bahwa pertempuran tersebut menjadi pertaruhan gengsi antara Rusia dengan AS. Lain halnya dengan Iran, Iran mendukung kelompok pemerintah karena memiliki kedekatan secara aliran dengan presiden Assad yang sama-sama menganut pahak syiah. Cina memiliki kepentingan bisnis secara umum di sektor gas dan minyak. Bagi Arab Saudi, dengan mendukung pihak oposisi Suriah mereka mendapat keuntungan secara ekonomi maupun politik. Secara ekonomi mereka bisa mendapatkan keuntungan dari naiknya harga minyak. Dari politik, jika Assad jatuh, mereka akan menambah satu sekutu bari di Negara Arab.   

Mengapa Suriah Dijadikan sebagai Terget?
Proxy war (Proxy War adalah sebuah perang yang terjadi antara dua negara atau kubu dimana negara2 tersebut tidak terlibat secara langsung, melainkan melibatkan pihak ketiga) terhadap Suriah diiringi dengan kebijakan konsisten AS yang telah mendominasi energi kaya Timur Tengah. Meskipun Suriah bukanlah produsen utama minyak, satu penjelasan tertentu yang mempertimbangkan mengapa Suriah menjadi target adalah penemuan pada tahun 2007 cadangan gas alam terbesar yang diketahui berada di Teluk Persia, yang mana kemudian dibagi antara Iran dan Qatar. Iran kemudian meluncurkan proyek PARS Pipeline, yang mengarah pada pembangunan pipa dari Teluk Persia, melalui Irak, dan berakhir di pantai Mediterania Suriah.
Sejauh ini pembangunan pipa telah mencapai penggiran kota Damaskus dan diharapkan akan selesai tahun depan. Sementara itu beberapa tahun terakhir ini Uni Eropa telah cemas atas diversifikasi (ketergantungan) sumber energi, dan akhirnya memulai proyek pipeline Nabucco pada tahun 2009, yang mana berawal dari laut Kaspia melalui kaukasus, Turki, dan Balkan dengan harapan mengurangi ketergantungan Uni Eropa terhadap gas alam Rusia. Uni Eropa berharap pemasok(sumber) gas alam berasal dari Irak, Azerbaijan, Turkmenistan, dan Mesir. Namun proyek Nabucco tersendat beberapa bulan lalu dikarenakan masalah sengketa, sementara saingannya yaitu pipeline South - Stream Rusia yang melintasi Laut Hitam melalui rute menuju
Eropa telah sukses dibangun.
Setelah kedua proyek ini beroperasi penuh, itu akan berarti Uni Eropa menerima seperempat gas alam dari Rusia, dimasa mendatang akan bergantuung pada Iran dan Rusia hingga 50% dari pasokan gas alam. Akibatnya Qatar, dengan porsi gas alam Teluk Persia, mengetahui akan kehilangan kompetisi memasok langsung ke Uni Eropa. Problem inilah yang menjadi motivasi utama Qatar dalam menggulingkan pemerintahan Suriah sebagai sarana menyabotase PARS Pipeline.

Permasalahan tentang ISIS
ISIS muncul karena campuran tiga fenoena yang saling berurutan. Pertama, invasi AS terhadap Irak pada tahun 2003. Kedua, pemerintahan boneka bermahzab syiah pengganti Saddam Husein yang dibentuk AS telah melakukan diskriminasi sistematis terhadap mayoritas pengikut mazhab sunni yang melahirkan ISI, Islamic State in Iraq, sebuah gerakan resistensi local warga Iak yang dipimpin oleh Abu Mushab Al-Zarqawi terhadap invasi AS. Ketiga, ketika konflik di Suriah pecah, ISI melakukan ekspansi ke wilayah Suriah dengan mengubah naman menjadi ISIS, Islamic State in Iraq and Syria. Tujuan dibentuknya ISIS adalah untuk mendirikan negara Islam, ISIS dengan mudahnya mengkafirkan selain Islam bahkan sesame Islam tapi beda ideologi.

Solusi Konflik Suriah
Berbagai cara dilakukan PBB untuk menyelesaikan konflik di Suriah, di antaranya embargo ekspor-impor barang di Suriah, pembekuan asset, hingga pengutusan mantan sekjen PBB Kofi Annan untuk membawa proposal damai, namun upaya tersebut beum membuahkan hasil yang signifikan demi tercapainya perdamian di Suriah.

Tambahan dari blog Seorang Warga Negara Suriah yang Sekarang Menetap di Qatar
“It’s not proxy war, it’s a war with a proxy element.” 

Sumber : Jurnal UI, UGM, dan UNY




You Might Also Like

0 komentar