THE BEST PART OF MY LIFE PT. 1 AKA UMRAH

23.23


Assalamualaikum w.wb.
Hi hi semuanya, lama ya aku tidak update. By the way, aku akan menceritakan pengalamanku umrah selama 12 hari bersama ayah dan ibu. Semoga bermanfaatJ
 Dari dulu, aku ingin sekali berangkat umrah sekeluarga tapi memang belum ada panggilan. Jadi ya tetap berdoa sambil berikhtiar saja. Tahun lalu, keluargaku hampir kena tipu gara2 lomba TTS. Lomba TTS itu dimuat di salah satu majalah terkemuka Indonesia. Ibuku yakin sekali akan menang dan ternyata beberapa minggu kemudian, ibuku dapat surat bahwa kami menang dan hadiahnya adalah 300 juta rupiah. Wowowow. Ketika pikiran kami sama, yaitu berangkat umrah. Kami sudah merencanakan semuanya. Sayangnya baru kami tahu bahwa itu hanyalah tipuan. Sedih, sangat sedih.
Masih di tahun kemarin, Allah mengobati kekecewaan kami dengan benar-benar memberi rezeki yang nyata. Dan Alhamdulillah akhirnya aku, ayah, dan ibu jadi berangkat umrah.
Awal keberangkatan kami yaitu tanggal 28 februari pagi jam 6. Dan itu adalah pengalaman pertamaku naik pesawat. You know what? Saking takutnya, dari Juanda ke Kuala Lumpur International Airport aku tidak berhenti beristighfar dan bertasbih. Aku punya semacam achrophobia (takut akan ketinggian), jadi benar-benar nggak berani naik sesuatu yang melambung tinggi. Transit di Malaysia, bandaranya lumayan bagus. Wifinya juga lancar. Setelah empat jam transit, rombongan kami akhirnya berangkat menuju King Abdul Azis, Jeddah menggunakan pesawat Air Asia. Dan karena aku masih takut, dari awal perjalanan sampe KAA aku tetap beristighfar dan bertasbih. Alhamdulillah sampai di sana pukul 9 malam. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan ke Madinah, kurang lebih lima jam. Ketika sampai di Madinah, dan melihat Masjid Nabawi aku menangis karena saking senangnya bisa menginjakkan kaki di sini dan akan berziarah ke makam Rasulullah SAW, Abu bakar, dan Umar. Sampai di hotel sekitar jam 3 pagi. Kami pun bersiap-siap pergi ke Masjid Nabawi jam 4 pagi. Cerita lucunya, di Masjid Nabawi itu ada dua kali adzan shubuh. Adzan pertama jam 4.30 pagi. Ketika mendengar adzan, aku kebingungan karena kata ustadz Ulil (pendamping rombongan) adzan Shubuh jam 5.30 pagi. Aku dan ibu kebingungan. Akhirnya aku bertanya kepada orang, apakah adzan itu adzan shubuh, dan mereka menjawab iya. Aku menunggu, kok lama banget nggak mulai shalat. Jam 5.30 terdengar adzan lagi. Ahhhh aku baru tahu kalau adzan shubuh di sini dua kali. Such a pabo.
Alhamdulillah, hotelku (Mubarak Silver) sangat dekat dengan Masjid Nabawi dan menuju ke gerbang 25, gerbang bagi para perempuan untuk salat. Setelah shalat dan makan, kami diajak berkeliling sekitar Masjid Nabawi. Malamnya para perempuan diajak ke Raudah (makam Rasulullah SAW, Umar, dan Abu Bakar). Setauku ada waktu-waktu tertentu bagi para lelaki dan perempuan untuk mengunjungi Raudah, ba’da isya untuk perempuan, sisanya untuk laki-laki (pleace give correction if I get it wrong). Aku kaget ternyata Raudah sangat sangat padat, iyasih kan makam Rasul dan sahabat. Targetku waktu itu salat di karpet hijau dan melindungi ibuku dari desakan orang-orang. Alhamdulillah, aku menarik ibuku ke depan dan melindunginya ketika saat sunah mutlak. Lalu ibuku keluar, tinggal aku dan dua orang rombongan. Alhamdulillah aku bisa salat di depan makam Rasul.
Hari kedua dan selanjutnya, kami habiskan di Masjid Nabawi untuk beribadah. Selain itu, kami diajak jalan-jalan ke kebun kurma, tempat percetakan Quran, Masjib Quba, dan lain-lain. Masjid Nabawi sangat sangat sangat indah, di halamannya terdapat pilar-pilar berbentuk payung yang bisa menutup dan membuka. Jadi jangan takut kepanasan kalau salat di pelataran masjid. Di sana ada banyak pintu, jadi hati-hati, perhatikan medan, dan ingat-ingat pintu mana yang biasanya kamu lewati. Di pelataran masjid, ada tempat bagi para lelaki untuk menunggu perempuan, istri, saudara, atau putrinya. Sayangnya ayah tak pernah ada di sana karena beliau menyerahkan ibu kepadaku, jadi ayah bisa beribadah secara leluasa. But sometimes, I wonder who will wait for me in that area with smile ;). Oh ya, di dalam masjid ada banyak tempat minum air zam-zam. Jadi, siap-siap bawa botol ya, mumpung di sana. Minum sebanyak-banyaknya. Kalau yang di pelataran masjid, itu bukan air zam-zam, hanya air minum biasa. Pokoknya di Madinah, kegiatannya ya ke Masjid Nabawi, jalan-jalan, dan belanja. Setelah shubuh, depan pintu 25 sudah penuh dengan penjual apa saja, dari makanan sampai pakaian. Aku sih menyarankan untuk beli oleh-oleh di Madinah saja karena harganya terjangkau dan pilihan yang bervariasi, plus menurutku penjualnya lebih friendly dan masih muda. Jangan khwatir dengan bahasa, para penjual di sini jago-jago berbahasa Indonesia, bahkan Bahasa Jawa. Waktu itu, ayah dan ibu mampir di sebuah toko pakaian karena ibu ingin beli gamis. Penjualnya masih muda, kira-kira dua tahun di bawahku dan mirip aktor favoritku, Logan Lerman (ia seperti perpaduan antara arab dan eropa, I think). Dia lucu banget sampai-sampai aku ketawa terus. Hahahaha, aku bahkan merekamnya. Dan setiap aku dan ibu melewati tokonya (tokonya dekat dengan hotelku), dia pasti menyapa kami dan kadang-kadang malah menggertak kami. Hahahahaha, pokoknya dia lucu banget dan friendly.
Setelah empat hari di Madinah, kami akhirnya mengunjungi Mekkah dengan memakai Ihram dan ambil miqat di Masjid Bihr Ali. Butuh waktu lima jam ke Mekkah. Oh ya ketika berpamitan dengan Masjid Nabawi, rasanya sangat sedih karena harus berpisah dengan Rasul dan sahabat. Semoga aku dan keluarga akan bisa ke sana lagi. Amin....... rombongan kami sampai di Mekkah sekitar pukul 8 malam ketika isya’. Di Mekkah, aku benar-benar terkesan karena ketika memasuki waktu salat, orang-orang langsung salat di manapun mereka berada. Ketika itu rombongan kami harus menunggu karena jalan ditutup oleh orang-orang yang sedang melaksanakan Salat Isya’. Setelah itu kami makan malam dan mempersiapkan diri untuk umrah pertama (thawaf, sa’i, tahalul). Jumlah orang di sini berkali-kali lipat lebih banyak dari pada di Madinah, pokoknya seperti lautan manusia. Saat pertama kali menginjakkan kaki di Masjidil Haram, rasanya aku gemetaran. Apalagi saat melihat ka’bah secara langsung di depan mata, rasanya percaya tidak percaya bahwa bangunan di depanku itu adalah arah kiblat umat muslim untuk salat. Ada rasa sangat sangat senang dan bergetar karena keindahannya. Ka’bah sangat sangat indah dan megah, rasanya mata ini tak bisa melihat ke tempat lain selain ke ka’bah. Orang-orang satu per satu menangis, aku pun tak sanggup untuk menahan air mata saking senangnya. Aku berdoa semoga aku dan keluargaku bisa kembali ke sini lagi. Aminnnnn.... Alhamdulillah semuanya lancar dan bersemangat walaupun badan agak lelah setelah perjalanan jauh. Selesai umrah jam 2 pagi. Kamipun hanya tidur dua jam, karena jam 4 harus berangkat ke Masjid lagi.
Berdasarkan pengalaman pribadiku, tantangan di Mekkah lebih-lebih berat daripada di Madinah. Di Mekkah, satu jam sebelum adzan biasanya sudut-sudut di Masjidil Haram ditutup. Kalau sudah ditutup, kalian harus mencari jalan lain yang pasti lebih jauh atau mau tak mau salat di pelataran masjid. Aku secara pribadi tidak mau salat di pelataran masjid, karena lebih nyaman di dalam apalagi di dekat ka’bah. Suhu di Mekkah juga lebih lebih panas dari Madinah. Untuk salat Shubuh, aku biasanya berangkat jam 2 atau jam 3. Jamnya sama dengan Madinah, yaitu jam 5.30 untuk shubuh. Aku berangkat lebih awal karena aku mau salat Qiyammul Lail di sana dan mencari tempat dekat ka’bah, juga terkadang melakukan thawaf sendiri. Untuk salat dhuhur dan ashar, aku berangkat satu setengah jam sebelum adzan. Setelah ashar, aku dan ibu biasanya tidak pulang sampai selesai salat isya’ karena jarak hotel lumayan jauh, sekaligus itikaf di sini.
Aku sangat sangat bersyukur karena aku dan ayah bisa memegang berbagai sudut ka’bah, dari Hijr Ismail, Rukun Yamani, sampai Hajar Aswad. Ini adalah tipsku untuk bisa memegang/mencium ka’bah:
1.    Carilah waktu ketika orang-orang tidak banyak melakukan thawaf. Biasanya orang-orang membeludak di sekitar ka’bah ketika waktu salat wajib. Dijamin ka’bah penuh. Aku dan orang tua menuju Masjidil Haram jam 2 pagi, saat ini biasanya tak banyak orang (tergantung situasi, pelajari situasinya). Kami salat qiyammul lail, thawaf, lalu mencoba mendekat ke kabah.
2.      Sabar dan jangan menyakiti orang lain. Jangan sampai keinginan kalian menyakiti orang lain.
3.      Jangan mudah menyerah dan tahan banting. Didorong sampai jatuh atau kena pukul itu lumrah. Bayangkan saja orang muslim sedunia ke sini, bagaimana tidak penuh. Jadi jangan mudah menyerah ketika fisik kena pukul atau injak.
4.   Jangan langsung menerobos kerumunan, ikutlah arah thawaf sambil masuk ke dalam secara pelan-pelan. Menerobos langsung akan membuat kalian terlempar karena saking banyaknya orang.
5.      Cari celah sekecil mungkin dan manfaatkan. Seteah bisa mencapai tujuan, cepat berdoa, jangan lama-lama karena orang lain juga ingin berdoa di sini. Jangan egois lah intinya.

Awal aku bisa memegang ka’bah karena dibantu oleh Ustadz Ulil. Selanjutnya, aku dan ayah mempelajari situasi dan kondisi sehingga untuk hari-hari selanjutnya, kami bisa melakukannya sendiri tanpa didampingi ustadz. Aku lupa hari ke berapa, aku bisa hampir mencium semua sisi ka’bah kecuali Hajar Aswad. Hajar Aswad tak pernah sepi, selalu penuh. Jadi ya harus tahan banting dan sabar. Aku berkali-kali terlempar setelah hampir mendekatinya. Aku mencoba berkali-kali tapi tak bisa. Ya sudah, aku menyerah kala itu. Oh ya, aku berterima kasih kepada seorang laki-laki berbaju putih dan bertubuh besar karena membantu menarik ibuku dan aku sehingga kami bisa sampai di dekat Multazam (pintu ka’bah). Keesokan harinya aku ditantang ayah untuk mencium Hajar Aswad. Akupun sangat bersemangat dan HARUS berhasil mencium batu surga itu, mumpung ada kesempatan. Seperti yang sebelumnya, aku masih terlempar.  Saking penuhnya, kaca mataku hampir copot dan muknahku tertarik. Kakiku diinjak-injak tapi aku tidak menyerah. Ayah kasihan padaku, akhirnya beliau menarikku ke Rukun Yamani yang posisinya di dekat ka’bah. Ada cela sedikit, aku langsung mendekat ke Hajar Aswad. Kebetulan aku berada di belakang seorang laki-laki bertubuh sangat besar. Aku berharapnya ia menarikku ke depan. Eh dia malah kejebak di depan Hajar Aswad dan tak bisa kembali, ia akhirnya menjatuhkan tubuh besarnya ke belakang aka ke arahku. Aku rasanya seperti roboh saking beratnya. Aku tak tahu tiba-tiba setelh itu aku berada di depan Haja Aswad dan berhasil menciumnya. Ketika mencium Hajar Aswad, otakku blank, bingung mau berdoa apa saking kaget dan senangnya. Aku hanya berdoa agar aku dan keluarga dipanggil ke sini lagi. Setelah itu aku keluar dari kerumunan. RASANYA BENAR-BENAR LEGA DAN SEPERTI MENANG LOTRE. Alhamdulilahhhhhh......
Di Mekkah, kami diajak ke Jabal Magnet, Jebal Uhud, Jabal Rahman, Museum Ka,bah, dan lain-lain. Sampai tak terasa kami pun harus pulang. Kami melakukan Thawaf Wa’dha untuk berpamitan. Aku berdoa sekali lagi, aku ingin sekaliiiiiiiiii kembali ke sini. Amin Amin Amin. Kami pun check out dan menuju ke Gorniche, pusat perbelanjaan. Di sana aku bertemu dengan sepupuku, Dek Verry yang telah bekerja di Arab selama enam tahun. Yaaa ceritanya agak menyedihkan. KTPnya disita oleh majikan sehingga ia tak bisa pulang ke Indonesia kecuali ia harus dipenjara selama tiga bulan. Namanya manusia, tak peduli orang mana, bahkan orang dari negeri Islam pun juga bisa berbuat keji. Aku hanya berharap Dek Verry bisa kembali ke Indonesia secepatnya. Amin. Setelah itu kami menuju Laut Merah untuk melakukan Salat Dhuhur dan Isya. Sampai di sini kisahku perjalanan religiusku semoga bermanfaat. Oh iya, hobiku di Arab adalah memotret anak-anak kecil. Anak kecil di sana lucu, cantik, ganteng, pokoknya bikin gemas. Tak heran di smartphoneku dipenuhi foto anak-anak kecil.
Pesan terakhirku adalah, umrah dan Haj itu memang panggilan dari Allah. Walaupun harta berlimpah, tak semua orang kaya bisa ke sana karena aku telah mengalami hal itu. Memang benar ke tanah suci hanyalah untuk orang-orang yang dipanggil oleh Allah SWT. Bahkan kemarin ada seorang kakek yang hanya berprofesi sebagai penjual jagung bakar. Beliau mampu pergi ke tanah suci. Jadi, untuk kalian semua khususnya anak muda. Jika finansial dan fisik kuat, lupakan sejenak jalan-jalan ke Korea, Inggris atau ke manapun, ayo jadi tamu Allah. Allah akan menyambutmu di tanah suci ini dengan pengalaman spiritual yang luar biasa ;)  *Foto akan diupload 










You Might Also Like

0 komentar